Shalat merupakan ibadah yang mulia dan agung dalam syariat islam, bahkan Allah SWT menyebutkan perintah shalat setelah tauhid.

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus”. (QS;Al Bayyinah 5)

Islam itu dibangun di atas lima perkara ; syahadatain, menegakkan shalat, menunaikan zakat, haji ke baitullah dan puasa dibulan ramadhan. (HR Bukhari, Muslim dari Ibnu Umar).
Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat. (HR. Bukhari)

Berikut ini adalah penjelasan tentang cara sujud Nabi dalam shalat, yang mana kita ketahui bahwa ada dua cara sujud yang di perselisihkan para ulama kita. Wallahua’lam.

Beberapa istilah yang belum dipahami dapat dilihat di ( http://id.wikipedia.org/wiki/Hadist )

HADITS
Dari Abu Hurairah RA, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda; “Bila seseorang diantara kalian sujud, maka janganlah menderum seperti menderumnya unta, dan hendaklah ia meletakkan kedua tangannya sebelum keduan lututnya.” (HR. Tiga Imam Hadits) (Hadits marfu’).

Diriwayatkan dari Wail bin Hujr; “ Aku melihat Nabi SAW, apabila sujud beliau meletakkan kedua lututnya sebelum beliau meletakkan kedua tangannya. (HR. Empat Imam Hadits) (Hadits marfu’).

Hadits Ibnu Umar; Nafi’ mengatakan, bahwa Ibnu Umar meletakkan kedua tangannya dipermukaan kedua lututnya,” (HR, Bukhari, muallaq, mauquf)

PERINGKAT HADITS.
Hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Bukhari dalam Tarikh al Kabir, yaitu hadits Muhammad bin Abdullah bin Al Hasan dari Abu Az-Zanad dari Al A’raj dari Abu Hurairah, tentang Muhammad bin Abdullah bin Al Hasan ini, Bukhari mengatakan, “ Tidak ada perawi lain yang sesuai dengannya, dan aku tidak tahu apa ia mendengar dari Abu Az-Zanad atau tidak.”

Hamzah Al Kanani mengatakan, “Hadits ini mungkar.”

Ibnu Sayyidinnas mengatakan; “Hadits Abu Hurairah termasuk hadits hasan, (yaitu yang terdapat) dalam periwayatan At-Tirmidzi karena perawinya bersih dari cela.”

Hadits inipun diriwayatkan oleh As-Sarqasthi dalam Gharib Al-Hadits yang bersumber dari BAu Hurairah secara mauquf dengan lafazh, “janganlah seseorang diantara kalian menderum seperti menderum unta yang kesasar”.

Adapun hadits dari Wail bin Hujr, diriwayatkan oleh Abu Dawud, At Tirmidzi, , An-Nasa’i, dan Ibnu Majah dari syarik An Nakha’I dari “Ashim bin Kulaib dari ayahnya dari Wail bin Hujr.

At-Tirmidzi menatakan,” Ini hadits hasan gharib. Kami tidak mengetahui seorang pun yang meriwayatkannya seperti ini selain Syarik.” Ad Daruqhuthni mengatakan,” Syarikh meriweayatkan sendirian, dan syarikh tidak kuat bila hanya meriwayatkan sendirian.”

Al Baihaqi mengatakan,” Isnadnya lemah, namun ada jalur periwayatan lainnya.” Karena itulah Al Khatabi mengatakan.” Hadits Wail lebih shahih daripada hadits Abu Hurairah.”

Sedangkan hadits Ibnu Umar, Bukahri menganggapnya mua’allaq, Ibnu Khuzaimah menganggapnya maushul, demikian juga Abu Dawud, Ath-Thahawi dan Ad Daruquthni dari jalur Ad Darawardi dari Ubaidillah Ibnu Umar dari Nafi’ dari Ibnu Umar.

Al Auza’I mengatakan ,” Aku melihat orang-orang meletakkan tangannya sebelum kedua lututnya.”

Adalah benar riwayat mauquf dari Umar RA yang menyebutkan,” Bahwa ia bertumpu pada kedua lututmya.” (HR. Ibnu Abi Syaibah).

HAL-HAL PENTING dari HADITS.
1.Ada tiga hadits tentang sifat turun untuk sujud.

a. Hadits Abu Hurairah
b. Hadits Ibnu Umar
c. Hadits Wail bin Hujr

2.Hadits Abu Hurairah dan hadits Ibnu Umar sama-sama menyatakan bahwa yang lebih utama adalah sampainya kedua tangan ke lantai sebelum kedua lutut, sedangkan hadits Wail bin Hujr kebalikannya, yakni bahwa yang utama adalah sampainya kedua lutut lebih dahulu daripada kedua tangan.

3.Sebagian Ulama lebih mengunggulkan hadits Abu Hurairah dan Hadits Ibnu UMar daripada hadits Wail bin Hujr. Mereka mengatakan: “ Lutut unta terletak di tangannya dan itulah yang lebih dahulu turun ke tanah, sedangkan manusia lututnya berada dikaki, maka tidak selayaknya lutut itu sampai ke tanah sebelum tangan.

4.Ibnu Qayyim Rahimhullah mengatakan.” Dalam hadits Abu Hurairah terdapat pembalikan dari perawi, yaitu mengatakan,”Hendaklah meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya,” padahal aslinya adalah “Hendaklah meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya”. Ini ditunjukkan oleh hadits pertama, yaitu, “Maka hendaklah ia tidak menderum seperti menderumnya unta.” Karena yang menderumnya unta yang kita diketahui umum adalah mendahulukan kedua tangannya daripada kedua kakinya, maka beliau melarang manusia menjadikan bagian atas tubuhnya lebih dahulu sampai ketanah sebagaimana kebiasaan unta, jadi hendaknya menusia menyelisih unta, yaitu yang diturunkan lebih dahulu dari tubuhnya adalah kedua lututnya yang memang berada di kakinya, kemudian tangannya, kemudian wajahnya dan hidungnya. Inilah yang benar dari kesimpulan hadits-hadits tadi. Dengan begitu hilanglah dugaan adanya persilangan antar hadits2 tersebut. Ini sejalan dengan realita atsar, dan selaras dengan tabiat serta kondisi tubuh manusia, karena orang yang shalat itu menurunkan tubuhnya dari atasa secara bertahap, sehingga yang smapai lebih dahulu ke lantai adalah yang lebih dekat ke lantai, yaitu lututnya, kemudian tangannya, kemudian dahi dan hidungnya.

5.Dan mayoritas ahli ilmu berpendapat bahwa yang lebih utama adalah meletakkan lutut terlebih dahulu, kemudian tangan berdasarkan hadits Wail bin Hujr.

Wallahua’lam