Andakah orang yang beruntung? Atau apakah anda tidak menginginkan keberuntungan? Tentunya semua orang akan mendambakan keberuntungan. Namun orang belum menyadari atau bahkan menyangka bahwa keberuntungan seseorang dinilai dari harta yang dia peroleh atau prestasi yang diraih, pangkat atau kedudukan yang dijabat. Sehingga dengan pemahaman seperti itu segelintir orang akan menghabiskan waktu tenaga dan pikiran bahkan umurnya yang pendek untuk memdapatkan semua itu.

Padahal mereka salah dalam menilai keberuntungan yang mereka usahakan. Anda masih ingat dengan Qarun dan Fir’aun yang diabadikan dalam AlQur’an sebagai orang terkaya dan tertinggi pangkatnya dalam sejarah umat manusia. Sampai-sampai menurut riwayat karena saking kayanya kunci-kunci tempat penyimpanan harta Qarun harus digotong sejumlah orang untuk membawanya, Masya Allah. Namun apa hasil akhir yang mereka peroleh? Karena kedurhakaan mereka Allah SWT menurunkan azab kepada keduanya sebagaimana Allah SWT mengabarkan dalam Al Qur’an:

فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ
“Kamipun membenamkan Qarun beserta rumahnya kedalam perut bumi, maka tidak ada suatu golongan pun yang menolongnya selain Allah (dari azab-Nya)” (Al Qashash:81).

“ Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Rabbmu telah berbuat terhadap kaum “Ad, (yaitu) penduduk Iram yang memiliki bagunan-bangunan tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu di suatu kota seperti itu di negri-negeri lain. Dan Kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah. Dan kaum Fir’aun yang mempunyai tentara yang banyak, yang berbuat sewenang-wenang dalam negri, lalu mereka berbuat kerusakan dalam negeri itu. Oleh sebab itulah Rabbmu menimpakan kepada mereka cemeti azab. Sesungguhnya Rabbmu benar-benar mengawasi” ( Al Fajr : 6-14).

Dalam kehidupan sehari-hari kadang dalam obrolan kita sampai kepada kata-kata betapa beruntungnya si Anu atau betapa beruntung orang-orang yang tinggal dinegara maju. Dimana Eropa dan sebagian besar Negara Asia telah memiliki kemajuan teknologi dan dilimpahi kekuatan serta kekayaan. Apakah itu merupakan suatu bentuk keberuntungan dan kebahagian buat mereka orang-orang kafir? Ketahuilah bahwa apabila iman tidak menjadi pegangan dan akidah yang shahihah menjadi landasan, maka akan binasalah dunia dan jadil;ah amalan menjadi tidak berguna. Sebagaimana Allah SWT telah menerangkan dalam Al Qur’an tentang amalan orang-orang kafir yang tidak ada bermakna apapun karena tidak dilandasi dengan iman.

“ Dan amal-amal orang kafir adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu, dia tidak mendapat apa-apa….”(An Nur:39).

“Permisalan amalan-amalan orang-orang kafir kepada Rabb mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangoin kencang . Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikit pun dari apa yang telah mereka usahakan didunia. Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.”(Ibrahim:18)

Kehidupan orang-orang kafir yang hidup dan mengagungkan segala bentuk kekuatan, kekayaan dan kemajuan teknologi yang mereka miliki hanyalah urusan dan kenikmatan atau kebahagian dunia semata yang semu. Sebagaiman Allah SWT menciptakan perhiasan dunia sebagai cobaan bagi umat manusia, dan kesemuanya itu akan binasa dan akan berakhir sebagai suatu kerugian, sedang Neraka adalah tempat kembali mereka.

“ Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir yang bergerak bebas dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka adalah neraka jahannam dan neraka jahannam adalah tempat yang seburuk-buruknya”(Ali Imran:196-197).

Sebagian dari kita umat muslimin kadang menjadi lemah imannya karena terpedaya manakalah melihat orang-orang kafir diberi keleluasaan dan kelapangan dalam kehidupan dunia. Akibatnya ia akan kagum dan mengagungkan mereka didalam hatinya. Sebaliknya, bila ia melihat kelemahan menimpa kaum muslimin dan terbelakangnya kehidupan mereka, ia menyangka semua itu gara-gara islam yang mnereka imani.
Ketahuilah bahwa kebangkrutan dan kerugian orang-orang kafir di dunia dan di akhirat merupakan suatu kemestian, karena mereka sudah kehilangan keberuntungan dan kebahagian. Sedang keberuntungan hanyalah milik orang-orang-orang yang bertakwa, sebagaimana firman Allah SWT;

Sungguh beruntung orang-orang yang beriman yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tidak berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak wanita yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa yang mencari dibalik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat yang dipikulnyadan janjinya, dan orang-orang yang menjaga shalat mereka. Maka itulah orang-orang yang akan mewarisi yaitu yang akan mewarisi surga firdaus. Mereka kekal didalamnya.”(Al Mukminun:1-11)

“Alif laam miiim. Kitab AlQuran tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada Al Quran yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin adanya kehidupan akhirat. Mereka itulah yang tetap beroleh petunjuk dari Rabb mereka dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al BAqarah: 1~5)

Selain itu ada beberapa hal yang karena kita melakukannya maka Allah meyebut kita sebagai orang yang beruntung. Seperti bertaubat dari dosa-dosa, beramal shalih, berzikir kepada-Nya secara terus menerus, senantiasa bersifat terpuji dan menghindari sifat tercela.

“Adapun orang-orang yang bertaubat dan beriman serta mengerjakan amal shalih maka semoga ia termasuk orang-orang yang beruntung.”(Al Qashash:67)

“Berdzikirlah kalian kepada Allah denganb sebanyak-banyaknya agar kalian beruntung.”(Al Anfhal:45)

“Berifaklah dengan infakk yang baik untuk diri kalian. Barangsiapa yang diperlihara dara kekikiran dirinya maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”(At Thagabun: 16)

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan dirinya. Dia ingat nama Rabbnya kemudian mengerjakan shalat.”(Al A’la:14~15)

Jadi bagaimanapun juga keberuntungan yang kita anggap selama ini hanyalah hiasan dunia semata, dan keberuntungan sesungguhnya adalah keberuntungan yang akan kita perolah pada akhir zaman. Dimana pada saat itu amalan kita akan ditimbang, dan akan tampaklah mana orang-orang ynag merugi dan mana yang beruntung.

“Timbangan pada hari itu ialah kebenaran. Maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu berlaku zalim terhadap ayat-ayat Kami.” (Al A’raf:8~9)

Jadi apalagi yang akan kita tunggu, marilah kita memperbaiki amalan-amalan yang kurang benar, meningkatkan kualitas iman kita, serta memperbanyak amalan-amalan sesuai tuntunan dari Rasulullah, disisa hidup kita di Dunia yang akan segera berakhir. Agar timbangan pada hari kiamat kelak lebih berat pada kebaikan, dan tentunya menjadi orang-orang yang beruntung.
(Batam, Early July 2009)