bful_bflies_funzug1
“JIka kamu sudah berusaha untuk suatu urusan maka bertawakallah kepada Allah”. (QS. Ali Imran:159)

Pada suatu hari di sebuah pohon hiduplah beberapa ekor ulat kecil-kecil, akan tetapi karena yang dilakukan oleh ulat –ulat itu hanyalah memakan daun maka ulat-ulat itupun menjadi ulat yang kuat dan sehat.
Suatu hari datanglah seekor kupu-kupu yang memiliki sayap yang indah dan hinggap pada pohon tersebut. Melihat kedatangan kupu-kupu tersebut maka ulat-ulat pun bertanya-tanya siapakah gerangan yang datang, sehingga akhirnya ada seekor ulat yang memberanikan diri bertanya kepada kupu-kupu tersebut.
“Engkau siapa?” tanya sang ulat.
“Aku Ibu kalian,” kata kupu-kupu.
“Apakah benar engkau ibu kami? Tidak mungkin ,” kata ulat itu. “Engkau memiliki sayap yang indah dan juga bisa terbang kemana-mana. Sedangkan kami tidak.”
“Aku juga dulu seperti kalian, seekor ulat. Kalian juga bisa seperti aku, bisa terbang kemana-mana kalau kalian mau.”
“Bagaiman caranya, apakah engkau mau mengajarkan kepada kami bagaimana caranya agar bisa terbang dan memiliki sayap yang begitu indah seperti yang engakau miliki.”
“Tak semudah itu. Kalain harus mengikuti semua tata caranya! Apakah kalaian mau,”
“Kami mau, kami mau….,” mereka serentak menjawab.
“Baiklah jika kalian mau mengikuti tata caranya; pertama-tama kalian tidak boleh lagi memakan daun. Kalian harus berpuasa. Kedua, pada waktu kalaian berpuasa kalian harus menahan segala macam godaan yang datang kepada kalian. Kemudian yang ketiga, setelah beberapa hari kalian akan mengeluarkan air liur yang sangat banyak, maka lilitlah tubuh kalian dengan air liur tersebut sampai tubuh kalian tertutupi semuanya oleh air liur tersebut. Hingga akhirnya air liur tersebut membentuk kepompong yang kuat dan kalian diamlah didalamnya sampai kalian mempunyai sayap, mempunyai kaki yang baru, dan mempunyai belalai untuk mengisap madu. Tetapi kalaian harus ingat, kalian harus sekuat tenaga menahan segala macam cobaan yang menghampiri kalian. Apakah kalian sanggup untuk melaksanakan semua itu?”
Para ulat tersebut secara serempak menjawab ,”Kami sanggup.”
Setelah kupu-kupu itu terbang, maka terjadilah perdebatan dan pertentangan pendapat di antara ulat-ulat tersebut. Hal tersebut terjadi dikarenakan di antara para ulat tersebut ada yang percaya dan ada yang tidak percaya. Mereka tidak percaya dengan hanya berpuasa maka mereka bisa punya sayap untuk terbang apalagi harus bersusah-susah dalam sebuah kepompong untuk menahan lapar.
Akan tetapi bagi mereka yang percaya segera mencari tempat yang nyaman untuk berlindung selama berpuasa dan proses menjadi kepompong.
Ternyata diantara mereka yang menjalankan aktivitas itu terdapat beberapa diantaranya mulai gusar dan ragu-ragu. Selain menahan lapar dan haus mereka juga kadang mendapat gangguan dari saudara mereka. Seperti dengan sengaja melahap daun segar di hadapan mereka, sehingga mereka terlihat lesu dan murung karena mulai tidak tahan menahan godaan.
“Kok lesu, lapar ya’” goda kawan-kawan mereka yang jahil.
“Iya nih, lapar sekali,” jawab mereka yang mulai tergoda.
“Makanya, ngapain capek-capek berpuasa segala, mendingan kita makan yang banyak, tak usah peduli kita akan menjadi kupu-kupu atau tidak yang penting kita setiap hari bisa makan daun-daun yang enak ini.”
Seekor ulat yang lain berseru kepada ulat yang sedang berbicara tersebut untuk tidak tergoda atau menghiraukan ajakan ulat-ulat yang tidak berpuasa, bahkan menyemangati kawan-kawannya agar tetap bersabar sampai mereka nanti menjadi kupu-kupu. Namun ada juga yang terpengaruh oleh teman mereka yang tidak berpuasa, dan akhirnya ia kembali mulai melahap daun-daun yang memang sangat menggiurkan.
Dan pada akhirnya tinggal beberapa ekor yang masih tetap bertahan untuk bersabar menjalani proses yang disampaikan oleh kupu-kupu. Mereka dengan segala cara menahan nafsu dan giat membuat kepompong sampai tubuh mereka tertutup secara keseluruahan.
“Lihatlah seluruh tubuh mereka semua tertutup kepompong, sebentar lagi mereka akan mati kelaparan,” ejek ulat-ulat yang bertubuh besar dan gemuk.
“Ya, betul sekali. Mereka pasti akan mati,” sahut ulat yang lain yang tubuhnya tidak kalah besar.
Mereka yang tidak berpuasa mempunyai tubuh yang semakin besar dan mulai terlihat kehitam-hitaman.
Setelah beberapa lama , terlihat ada beberapa kepompong mulai bergerak-gerak. Salah seekor ulat yang melihat terheran-heran, karena dikiranya kawan mereka tersebut sudah mati. Dan kemudian dia memanggil kawan-kawannya untuk melihat apa yang terjadi selanjutnya pada kepompong tersesbut.
Tiba-tiba dari dalam kepompong tersebut muncullah sesosok makhluk baru yang begitu indah. Memiliki kaki yang panjang, memiliki antenna dan yang paling penting adalah terdapat sayap yang memiliki corak yang snagt indah . Demikian juga kepompong yang lain walaupun sayap mereka berbeda-beda coraknya, akan tetapi tetap tidak mengurangi keindahannya.
Bentuk mereka sama dengan kupu-kupu yang datang dan mengaku sebagai ibu ke mereka. Kupu-kupu tersebut pun terbang keasan kemari, hinggap dari dahan ke dahan dan dari bunga ke bunga lainnya. Dan mereka bisa mngisap madu yang terdapat pada bunga dengan belalai yang mereka punya. Dan mereka kembali ke pohon tempat kawan mereka yang masih seprti dulu.
“Apa kabar semuanya, kenapa kalian bingung seperti itu,” kata kupu-kupu kepada para ulat yang enggang berpuasa . “Sekarang lihatlah, aku sudah punya sayap dan bisa terbang ke mana-mana, mengisap madu dari bunga-bunga yang indah, rasanya manis dan enak sekali. Ini karena aku mau berpuasa dan mengikuti tata cara yang telah disampaikan. Sekarang aku ingin terbang untuk melihat pemandangan alam yang indah”.

Jangan pernah menyerah selama kita meyakini sesuatu yang sudah pasti kebenarannya dan pernah dicontohkan walaupun itu harus dilalui dengan kepahitan, kegetiran dan sesuatu yang tidak disukai. Yakinlah ada sesuatu yang manis untuk diperoleh kelak, dan insya Allah kita akan menikmati jerih payah atas apa yang telah kita lakukan itu. Yakinlah !!!!.