319275344_ae7fd48643Setelah Rasulullah SAW sempurna menyampaikan risalah, menunaikan amanah, dan menasehati umat, maka mulai terlihat tanda-tanda akan berpisahnya Beliau SAW dari dunia, yang bisa dikenali dari ucapan dan tindakan-tindakan Beliau SAW.
Beliau SAW telah melakukan I’tikaf pada bulan ramadhan di tahun 10 hijriyah menjadi sebanyak 20 hari dan Jibril mengajari Beliau Al Qur’an sebanyak 2 kali. Beliaupun SAW sempat berkata kepada putrinya yakni Fathima. “ Aku tidak melihat hal itu melainkan memang telah dekat ajalku.”
Beliau SAW juga mengantarkan Mu’azd ke negeri Yaman (untuk berdakwa ke sana) lalu memberikan wasiat kepadanya dan berkata, “Wahai Mu’adz, engkau mungkin tidak akan bisa menjumpaiku lagi setelah tahun ini, boleh jadi engaku akan melewati masjidku ini dan juga kuburku.” Maka Mu’adz pun menangis begitu keras karena akan berpisah dengan RAsululullah SAW.
Beliau SAW berkali-kali mengatakan dalam Haji Wada’, “ Mungkin aku tidak akan lagi bisa berjumpa dengan kalian semua setelah tahun ini. Dan mungkin aku tidak lagi bisa menunaikan haji setelah tahun ini.”Ketika itu turun firman Allah SWT :
Pada hari ini telah Kusempurnakan bagi kalian agama kalian, dan telah Kucukupkan atas kalian nikmat-Ku, serta telah Kuridhai Islam itu menjadi agama kalian.” (QS:Al Maidah,3)
Pada awal bulan Shafar tahun ke 11, Nabi SAW pergi menuju Uhud lalu mendo’akan para syuhada seperti situasi perpisahan antara yang hidup dan mati. Kemudian Beliau SAW naik ke mimbar dan berkata :
Aku akan mendahului kalian dan aku akan menjadi saksi atas kalian. Sungguh demi Allah, sekarang aku bisa melihat Telagaku (di surga) dan sungguh aku telah diberi kunci-kunci perbendaharaan bumi atau kunci-kunci Bumi. Sungguh demi Allah, tidaklah aku khawatir atas kalian untuk berbuat syirik setelahku. Namun aku khawatir atas kalian akan berlomba-lomba dalam urusan Dunia.”
Pada akhir bulan shafar, Beliau SAW pergi menuju pekuburan Baqi’ Al Gharqad pada tengah malam. Lalu Beliau SAW meminta ampun untuk mereka (penghuni kubur) dan berkata :” Seungguh kami benar-benar akan menyusul kalian.”
Pada hari Senin terakhir dari bulan Shafar, Beliau SAW menyaksikan jenazah di pekuburan Baqi’. Berkata ‘Aisyah, “ Beliau SAW pulang dari Baqi’ sementara aku merasakan sakit pada kepalaku. Aku mengatakan, “Aduh Kepalaku”. Lalu Beliau SAW pun berkata,”Bahkan aku juga, demi Allah wahai ‘Aisyah, duhai sakitnya kepalaku.” Dan inilah awal dari sakit Beliau SAW sementara Beliau SAW masih harus mengelilingi istri-istri Beliau SAW. Hingga semakin kerasnya sakitnya, sementara saat itu Beliau SAW berada di rumah Maimunah. Beliau SAW mulai bertanya-tanya, “ Dimana lagi aku besok? Dimana lagi aku besok?” Dengan maksud bahwa Beliau SAW menghendaki hari giliran bagi ‘Aisyah. Maka istri-istri Beliau mengijinkan Beliau SAW untuk berada pada istri yang mana Beliau SAW suka. Lalu pergilah Beliau SAW berjalan dalam papahan Al Fadhl bin “Abbas dan Ali bin Abi Thalib dengan kedua kaki Beliau SAW melangkah diatas tanah hingga Beliau SAW sampai ke Rumah ‘Aisyah.
Berkata ‘Aisyah RA :
“Ketika Beliau SAW memasuki rumahku dan semakin keras sakit yang dialami, Beliau SAW berkata,” Tuangkanlah padaku tujuh Qirbah air yang tidak dilepas tali-talinya, barangkali aku masih bisa minta lagi kepada orang-orang.”
Kemudian Al Fadhl dan Ali menempatkan Nab SAW di dalam tempat air yang lebih besar milik Hafsah istri Beliau SAW. Lalu kami mulai menuang qirbah-qirbah air itu ke atas Beliau SAW hingga ia pun mengisyaratkan kepada kami bahwa telah cukup kami melakukannya. Selanjutnya Beliau SAW menemui orang-orang, lalu melakukan shalat dengan mereka dan menyampaikan khutbah kepad a mereka.
Beliau SAW mengatakan, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian, mereka telah menjadikan kubur Nabi-Nabi mereka dan orang-orang salih diantara mereka, sebagai masjid-masjid. Ketahuilah, maka janganlah kalian menjadikan kubur-kubur itu sebagai masjid-masjid. Sungguh aku melarang kalian melakukan itu.”
Beliau pun berkata,”Laknat Allah atas orang-oran Yahudi dan Nasarah, mereka telah menjadikan kubur-kubur nabi mereka sebagai masjid (tempat ibadah).”
Lalu Beliau SAW berkata, “Janganlah kalian menjadikan kuburku sebagai berhala yang di sembah”.
Kemudian Beliau SAW menawarkan diri untuk menerima hukuman balasan (jika ada yang merasa pernah dizalimi oleh Beliau SAW). Dan member nasehat kepada KAum Anshar berupa kebaikan. Selanjutnya Beliau SAW berkata,”Sesungguhnya seorang hamba diberikan pilihan oleh Allah antara ia diberikan keindahan dunia yang disukainya atau apa yang ada disisi Allah. Lalu ia memilih apa yang ada disisi Allah.”
Berkata Abu Sa’id Al Khudry:
“Lalu Abu Bakar menangis ketika itu dan berkata: Kami tebus engkau dengan ayah ibu kami.”

Peristiwa itu terjadi pada hari Rabu. Lalu ketika hari Kamis, sakit Beliau SAW bertambah keras. Beliau berkata,”Kemarilah kalian aku sampaikan sebuah tulisan yang kalian tidak akan pernah sesat setelahnya”. Kemudian Beliau SAW berkata, “ Aku tinggalkan pada kalian dua perkara yang kalian tidak akan pernah sesat selama kalaian berpegang teguh kepada keduanya, yakni Al Qur’an dan Sunnahku”.
Kemuadian di hari yang sama (Kamis) , ketika telah datang waktu isya, Nabi SAW beranjak Mandi untuk meringankan rasa sakitnya, akan tetapi karena sakitny semakin keras, Beliau SAW terjatuh pingsan. Dan ketika sadar ia mecoba lagi, akan tetapi Beliau SAW jatuh pingsan lagi. Demikian berulang sampai ketiga kalinya dan akhirnya diperintahkan Abu Bakar As-Shiddiq untuk memimpin shalat Jamaah.

Pada hari Ahad, Nabi membebaskan budak-budak yang dimiliki, membayar sedekah dengan 7 dinar uang milik Beliau dan menghadiakan senjata-senjata Beliau SAW kepada kaum muslimin. Lalu datanglah malam, maka ‘Aisyah RA membawa lampunya kepada seorang wanita dan ia berkata,” Tuangkanlah untuk kami minyak bakarmu didalam lampu kami.”Sedangkan baju besi milik Beliau SAW telah digadaikan kepada seorang Yahudi dengan 30 sha’ gandum.

Pada hari Senin, Rasulullah memanggil Fatimah, lalu membisikkan kepadanya sesuatu sehingga di a menangis. Kemudian Rasulullah SAW kembali membisikkan sesuatu kepadanya dan ia pun tertawa. ‘Aisyah bertanay kepadanya tenatng hal itu, namun ia merahasiakannya hingga Rasulullah SAW meninggal dunia. Barulah ia (Fathimah) menjelaskan bahwa Beliau SAW telah membisikkan kepadanya (yang pertama) bahwasanya Beliau SAW akan meninggal dunia, lalu ia menangis. Dan yang kedua Beliau SAW berbisik kepadanya bahwa ia adalah orang pertama dari keluarga Beliau SAW yang menyusulnya, lalu ia tertawa. Beliau SAW pun mengabarakan kepada Fathimah bahwa ia adalah pemimpin bagi para wanita seluruh alam.

Fathimah pernah melihat keadaan sangat menderita yang dialami oleh Beliau SAW, lalu ia berkata,” Betapa menderitanya engkau wahai Ayah”. Maka Beliau SAW berkata,”Tidak ada lagi penderitaan yang akan menimpa ayahmu setelah hari ini”. Lalu Beliau SAW pun memanggil Al Hasan dan Al Husain, kemudian mencium keduanya.

Mulailah sakit Beliau SAW semakin parah dan terus bertambah. Lalu Beliau SAW memuntahkan racun yang pernah Beliau SAW telan ketika di Khaibar. Kemudian Beliau SAW mulai merasakan sakit yang sangat. Beliau SAW menutupkan kain ke wajahnya, lalu merasa payah dan dibukanya dan berkata dalam kondisi seperti itu, “ Laknat Allah terhadap orang-orang Yahudi dan Nashara yang mereka telah menjadikan kubur nabi-nabi mereka sebagai masjid (tempat ibadah. Sungguh tidak akan tersisa kedua agama itu di Bumi Arab”. Inilah akhir dari ucapan Beliau SAW kepada para manusia dan Beliau SAW berulang-ulang beberapa kali, “Perhatikan Shalat dan Budak-Budak kalian”.

Pada Hari Senin tanggal 12 Rabiul Awal, dalam keadaan menjelang wafat, Aisyah ra menyandarkan Beliau SAW di dadanya antara posisi paru-paru dan lehernya. Pada saat itu Rasulullah SAW hanya memakai pakain yang ditambal dan sebuah kain sarung yang kasar. Lalu datang saudara laki-laki Aisyah ra yakni Abdur-Rahman dalam keadaan memegang siwak dari batang yang masih segar. Beliau SAW mulai melihat siwaknya itu. Lalu Aisyah ra pun paham bahwa Beliau SAW menghendakinya. Ia bertanya kepada Beliau SAW. Beliau SAW pu mengisyaratkan dengan menyatakan .”ya”.
Maka Aisyah ra mengambil sebatang siwak dan mengunyahnya hingga lembut. Kemudian Rasulullah SAW bersiwak dengannya sebaik cara biasa Rasulullah SAW bersiwak. Sementara di hadapan Rasulullah SAW terdapat bejana berisi air. Kemudian Rasulullah SAW mulai memasukkan kedua tangannya ke dalam air dan mengusapkan ke wajahnya , lalu berkata,”Tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah, sungguh kematian itu pedih”.
Selanjutnya Rasulullah SAW mengangkat kedua tangannya atau satu jari nya mendongakkan pandangan keatas dan kedua bibir Rasulullah SAW pun bergerak. Aisyah ra pun berusaha mendengarkannya, Rasulullah SAW berkata,”Bersama orang-orang yang telah Allah SWT berikan kepada mereka kenikmatan dari kalangan para Nabi, para shiddiqun, para syhada, dan para shalihun. Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku, dan gabungkanlah aku bersama Ar-Rafiq Al A’la (yakni kumpulan para nabi yang berada di Illiyin yang paling tinggi). Wahai ya Allah, gabungkanlah dengan Ar-Rafiq Al A’la.”
Rasulullah SAW mengulang 3 kali, lalu lepaslah ruh Beliau SAW dan menggeletak tangan Beliau SAW. Beliau telah bergabung dengan Ar-Rafiq A’ala. Peristiwa itu terjadi pada hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awal tahunke 11 hijriyah ketika pertengahan waktu Dhuha dan Rasulullah SAW ketika itu berumur genap 63 tahun.
Innalillahi wa innailahi rajiun (sesungguhnya kita milik Allah dan kita akan kembali kepadanya).

Pada hari Selasa mereka memandikan jenazah Rasulullah SAW tanpa melepas pakaian Beliau SAW. Yang bertugas memandikannya adalah Ibnu Abbas, Ali, Al FAdl, dan Qutsam yang keduanya merupakan anak dari Al Abbas. Juga Syukran yakni bekas budak Rasulullah SAW, Usamah bin Zaid, dan Aus bin Khawali. Al Abbas dan kedua anaknya bertugas membolak-balik badan, sedangkan Usamah dan Syukran bertugas menuang air. Adapun Ali yang memandikannya dan Aus bertugas menyandarkan badan Nabiyullah pada dadanya.

Mereka memandikannya sebanyak tiga kali dengan air yang dicampur dangan daun bidara. Jenazah Beliau SAW dikafani dengan tiga lapis kain putih yang dipintal dari kapas. Didalamnya tanpa dibuat baju maupun sorban. Kain tersebut dimasukkan dengan berlapis-lapis.

Untuk penggalian kubur dilakukan oleh Abu Thalhah.

Kemudian, jenazah Beliau SAW dishalati di dalam bilik Beliau SAW secara bergantian. Di mulai dari keluarga Nabi SAW, kaum muhajirn, kaum anshar, golongan anak-anak dan para wanita.

Selesai kegiatan shalat jenazah, tersebut pada hari Selasa memasuki malam Rabu. Kemudian mereka memasukkan jenazah Beliau SAW ke kubur dan selesai mengebumikan pada akhir malam.
Shallalahu ‘alahi wa sallam (semoga shalawat dan salam terlimpahkan bagi Beliau).