img_alkohol20copy<Pada dasarnya manusia memiliki tabiat suka mencontoh dan meniru-niru, dan ini merupak kodrat yang datang dari Allah SWT. Sebagaimana pada zaman sekarang ini, terlalu banyak figur-figur yang bermunculan sebagai tokoh idola. Kenyataan ini akan menjadi berbahaya ketika kita mencontoh orang-orang yang menyimpang dari petunjuk Rasululullah SAW. Oleh karenanya Allah SWT memerintahkan kepada hambanya untuk memilih dan mengikuti orang-orang yang baik serta melarang untuk mengikuti dan mencontoh orang-orang yang jelek serta rusak agamanya.
Orang yang tepat untuk dijadikan contoh adalah seperti yang disebutkan oleh Allah SWT.

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik bagi kalian yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah”.( Al Azhab:21)
Al Imam Ibnu Katsir Rahimullah mengatakan : “Ayat ini merupakan dalil yang agung dalam menjelaskan tentang disyariatkannya mengikuti Rasulullah SAW dalam ucapan, perbuatan dan tingkah laku beliau”.

Adapun manusia terbaik setelah Rasulullah SAW disebutkan dalam firman Allah SWT :

“Dan para pendahulu pertama (yang mendahului beriman) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai didalamnya, mereka kekal didalamnya, itulah kemengan yang besar”.( QS.At Taubah:100).

Ini menjelaskan bahwa telah ridha Allah SWT bagi orang-orang yang pertama masuk islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar, dan Allah SWT telah menyediakan bagi mereka temapat di Surga. Adapun orang yang datang berikutnya termasuk kita didalamnya, maka tidak ada jaminan dan kepastian untuk mendapatkan ridha-Nya apalagi mendapatkan surganya. Kecuali dengan syarat yaitu mengikuti mereka para sahabat dengan baik. Maka jelaslah bahwa, Allah SWT telah menjadikan para sahabat sebagai suri tauladan yang baik bagi kita, yang wajib kita cintai dan ikuti pemahaman mereka dalam menjalankan agama yang mulia ini.

Adapun orang-orang yang mengajak kepada amalan ibadah yang tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW, maka mereka bukanlah suri tauladan yang baik. Meskipun mereka dianggap sebagai Ulama, da’I, tokoh islam, atau semisalnya. Justru kewajiban kita untuk berhati-hati agar kita dan keluarga serta anak-anak kita tidak terpengaruh dari penyimpangan mereka dalam memahami agama. Karena mereka lebih berbahaya dari penyakit apapun. Yaitu penyakit mengikuti hawa nafsu dalam beragama, dengan melakukan amal ibdah yang tidak disyariatkan dan mengajak orang untuk mengikutinya.
Termasuk bentuk mencontoh yang bisa mempengaruhi akidah, ibadah, dan akhlak seseorang adalah berkaitan dengan teman bergaulnya. Apabila teman bergaulnya baik agamanya, maka orang yang berteman dengannya pun akan terpengaruh dengan kebaikan itu. Namun sebaliknya apabila teman bergaulnya memiliki akidah, akhlak dan ibadah yang rusak, maka orang berteman dengannya akan mengikuti kerusakannya, naudzubillahi. Oleh karena itu kita harus berhati-hati dalam memilh teman bergaul untuk diri kita sendiri, termasuk istri dan anak-anak kita.

Karena seseorang yang terpengaruh dengan teman-teman yang tidak baik, akan menyesali perbuatannya kelak sebagaimana telah difirmankan oleh Allah SWT :

“Dan ingatlah ketika hari ketika orang yang telah berbuat dzalim menggigit dua tangannya (karena menyesali perbuatannya), seraya berkata : “Ya seandainya aku dahulu mengikuti jalannya Rasulullah. Sungguh celakalah aku, seandainya aku dahulu tidak menjadikan si fulan itu teman dekatku. Sungguh dia telah menyesatkan aku dari mengikuti Al-Qur’an ketika Al Qur’an itu telah datang kepadaku, maka setan itu tidak akan mau menolong manusia”. (*QS. Al Furqan:27-29)

Rasulullah SAW telah menyebutkan dalam haditsnya :
“Barangsiapa menjadi contoh yang baik dalam menjalankan syariat islam (dengan menghidupkan Sunnah Nabi SAW), maka dia mendapatkan pahala dari perbuatan baiknya dan pahala dari orang-orang yang mencontohnya setelahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala orang-orang yang mencontohnya tersebut. Dan barangsiapa membuat contoh yang jelek dalam menjalankan agama islam (dengan beramal yang tidak disyariatkan) maka dia akan mendapatkan dosa dari perbuatannya dan menaggung dosa orang yang mencontohnya setelahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa orang yang mencontohnya”. (HR. Muslim)

Olehnya itu , yang menjadi hal penting yang perlu kita perhatikan dalam permasalahan ini adalah agar para orangtua menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya. Allah SWT telah memberitakan betapa besar karunia dan keutamaan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang menjadi contoh bagi anak keturunannya didalam firman-Nya :

“Dan orang-orang yang beriman dan yang keturunan mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami kumpulkan keturunan mereka didalam surge dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amalan mereka.” (QS: Ath-Thur:21)

Olehnya itu sudah seharusnya jika menginginkan anak keturunan yang baik, orang tua harusnya memperbaiki dirinya sehingga bisa menjadi contoh yang baik bagi anak keturunannya. Karena bagimana mungkin seseorang akan mendapatkan anak keturunannya menjadi orang yang benar akidahnya, sementara orangtuanya adalah orang-orang yang masih percaya pada para dukun dan meminta pertolongan dengan beribadah kepada Jin serta perbuatan syrik lainnya.
Bagaimana pula seseorang mengharapkan anak keturunannya menjadi orang-orang yang baik agamanya, sementara orangtuanya adalah orang-orang yang enggan berangkat shalat jamaah di Masjid?

“Sesungguhnya setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah, dan orangtuanyalah yang membuat dia menjadi majusi dan nasarah (HR. Bukhari dan Muslim).
Wallahualam