sss1
Beliau berkata :
Wahai anakku …… barangsiapa merasa cukup dengan apa yang menjadi bagiannya maka dia akan menjadi kaya dan barangsiapa memanjangkan pandangannya kepada apa yang ada ditangan orang lain niscaya dia akan mati dalam keadaan miskin. Barangsiapa yang tidak ridha dengan apa yang diberikan untuknya berarti telah mencaci allah swt dalam ketetapan takdir-Nya. Barangsiapa menganggap kecil ketergelinciran oranglain maka menjadi besarlah ketergelinciran dirinya. Barangsiapa menyibak tabir (aib) oranglain maka akan terisibak pula aurat (aibnya). Barangsiapa menghunuskan pedang pemberontakan maka akan terbunuh karenanya. Barangsiapa menggali sumur (lubang) bagi saudaranya maka Allah swt akan menjerumuskan dirinya kedalamnya. Barangsiapa masuk dan bercampur dengan orang-orang bodoh (tidak memahami agama) niscaya akan terhina. Dan barangsiapa bergaul dengan para ulama maka dia akan dimuliakan dengannya. Barangsiapa memasuki tempat-tempat kejelekan maka dia akan tertuduh (dengan kejelekan pula,).

Wahai anakku……. Waspadalah, jangan sampai engkau menganggap remeh oranglain, sehingga engkau pun akan diremehkan (oleh) mereka). Waspadalah, jangan engkau menggeluti perkara-perkara yag tidak bermanfaat bagi dirimu, sehingga engkau pun menjadi hina karenanya.

Wahai anakku……. Katakanlah yang haq (benar) dalam keadaan menguntungkan ataupun merugikanmu niscaya engkau memiliki kedudukan tersendiri diantara teman-temanmu. Jadilah engkau seorang yang gemar membaca dan mengikuti Al Qur’an, seorang yang gigih menyebarkan agama islam, seorang yang selalu memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran, seorang yang menyambung tali persaudaraan dengan orang yang memutuskan hubungan rahim denganmu. Jadilah engkau seorang yang selalu memulai menyapa orang-orang yang mendiamkanmu dan memberi kepada orang yang meminta kepadamu.

Wahai anakku…….. jauhilah namimah (perbuatan mengadu domba). Sungguh namimah itu akan menanamkan permusuhan didalam hati manusia. Dan hati-hatilah dalam membongkar aib manusia. Karena kedudukan seseorang yang membongkar aib manusia berada pada posisis sasaran bidik (sewaktu-waktu akan balik di bongkar aibnya). Apabila engkau mencari kebaikan maka wajib bagimu mengambil dari sumbernya. Sesungguhnya kebaikan itu memiliki asal dan pada asal itu terdapat pohon-pohon dan pada pohon itu terdapat cabang-cabang dan pada cabang-cabang itu terdapat buah , serta tidaklah buah itu menjadi matang (dengan baik) kecuali pada tangkainya dan tidaklah ada tangkainya kecuali ada pohonnya dan tidak pohon melainkan dengan adanya asal (bibit) yang baik.
Kunjungilah orang-orang yang baik dan jangan mengunjungi orang-orang yang jelek. Karena orang-orang yang jelek itu ibarat gurun pasir yang tidak dapat memancarkan air, atau ibarat pohon yang tidak menghijau daunnya, atau ibarat tanah yang tidak dapat menumbuhkan rerumputan.

(Fadhilatusy Syaikh Salih bin Abdillah Ad-Darwis. “ Al Imam Ja’far Ash Shadiq” hal. 27-29) .