lovesAllah SWT berfirman:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
” Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan pada apa-apa yang yang diingini, yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS; Ali Imran:14)

Dalam ayat yang mulia ini Allah SWT menjelaskan bahwa manusia tertipu dengan syahwat (kesenangan) kehidupan yang akan lenyap dan fana ini. Dan bahwasanya hal ini telah dijadikan indah indah pada pandangan mereka, telah dijadikan kecintaan pada jiwa-jiwa mereka dan dijadikan indah pada hati-hati mereka kecintaan terhadap syahwat. Maka Allah swt menyebutkan beberapa syhwat yang telah dijadikan indah dalam pandangan manusi. Allh swt memulainya dengan wanita, sebab fitanha yang disebabkan oleh wanita lebih dahsyat dan keinginan untuk bernikmat-nikmat dengannya melebihi yang lainnya. Dalam hadits shahih Rasulullqh saw bersabda :

مَا تَرَكْتُ بَعْدِيْ فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنْ النِّسَاءِ
“ Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah yang lebih berbahaya tarhadap laki-laki daripada (fitnah) wanita” (HR Bukhari)
Oleh karena wajib kedekatan dengan mereka itu diikat dengan pernikahan yang syariatkan.
Allah swt berfirman :

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا فَلَمَّا تَغَشَّاهَا حَمَلَتْ حَمْلًا خَفِيفًا فَمَرَّتْ بِهِ فَلَمَّا أَثْقَلَتْ دَعَوَا اللَّهَ رَبَّهُمَا لَئِنْ ءَاتَيْتَنَا صَالِحًا لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ
“Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-isteri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: “Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami terraasuk orang-orang yang bersyukur”. (Al-A’raaf:189)

Jadi, sebab hakiki dikarenakan adanya syahwat yang telah diperindah dalam hati manusia dankeinginan untuk berbuat kerusakan yang ada pada jiw, megharuskan dia melindungi dirinya dengan ketenangan dan membina rumah tangga yang shalihah, bukan dengan cara mebiarkan nafsu menggelora dalam jiwanya, sehingga akan meledak kapan saja , sebab Allah swt tidaklah menciptakan pasangan bagi jiwa kecuali untuk ketentraman dan kebahagian. Maka mengumbar syahwat pada perkara yang dimurkai oleh Allah swt mewariskan kesengsaraan dan kecelakaan bagi manusia dalam kehidupan dunia.
Dengan pernikahan yang syar’i kehidupan akan terus berkembang, Nampak indah , melahirkan keturunan yang shalih dan shalihah yang akan memakmurkan bumi dan menjadi hamba-hamba yang taat kepada Allah swt dann menegakkan syi’ar syi’ar-Nya.
Dari Anas bin Malik ra, bahwasanya Rasulullah bersabda :

“Dijadikan kecintaan bagiku dari dunia kalian: wanita dan wangi-wangian dan dijadikan kesejukan pandangan mataku dalam shalat” (An-Nasa’I (7/61) dan Ahmad (31/128) dan dishahikan oleh Al-Imam Ibnu Qayyim.)

Maka makna yang bias dipahami dari kecintaan hakiki yang berkembang antara laki-laki dan wanita adalah kecintaan yang membawa kepada ketenangan, ketentraman, membangun rumah tangga yang bahagia dan penuh kebaikan, serta memakmurkan bumi dengan keturunan yang shalih dan shalihah. Dengan demikian, tatkala semakin bertambah erat hubungannya semakin berkembang pula kecintaannya hingga menjadi kecintaan yang kokoh yang tidak tergoyahkan oleh badai topan dan tidak pula terhempaskan oleh terjangan angin. Sebab kecintaan tersebut dibangun diatas ketakwaan kepada Allah swt dan mengikuti syariat-Nya. Adapaun kecintaan yang ada pada benaknya orang-orang rusak lagi diragukan diennya, baik dari yang muda maupun dari yang tua, pada dasarnya kecintaan tersebut adalah kecintaan semu, yang tidak ada faedahnya sama sekali, bahkan sebenarnya itu adalah kesengsaraan dan kerugian, maka hendaknya para laki-laki dan wanita selalu waspada jangan sampai terjatuh ke dalam cinta yang semu ini dan hendaknya mereka hidup dengan realita kehidupan dan memahami benar hakikat kehidupan ini.

(Dikutip dari : Risalah ilal ‘Arusainn wa Fatwa Az-zawaj wal Mu’asyaratin Nisaa’ = Bingkisan untuk Kedua Mempelai. Oleh Abu ‘Abdirrahman Sayyid bin ‘Abdirrahman Ash-Shubaihi. Hal:92-95. Cet :I)